Barusan gue nemu gambar itu di Instagram. Gue baca baik-baik dan gue berakhir dengan enggak baik-baik aja. Nafas gue terasa berat seperti mencari lebih banyak oksigen, nyesek.
Gue percaya kalo cinta itu kadarnya, dan cuma hati yang bisa jadi timbangannya. Gue yakin kita semua pernah ngerasa kalo seseorang tuh mencintai kita enggak sebanyak kita dalam mencintai mereka. Kita selalu dibuat bertanya-tanya “dia sebenernya sayang enggak sih” dan kita seolah-olah dibuat ragu, mungkin cuma pikiran kita aja, tapi mungkin, dia memang enggak sesayang itu.
Dicintai seseorang karena kita mencintainya duluan tuh, nyesek. Karena hal itu bakal membuat penerimaan dia terhadap kita enggak seluas penerimaan kita pada dia. Seolah-olah, kita harus terima dicintai karena dia hanya merasa iba atau sekadar menghargai, bukan dari perasaan yang timbul dari dalam hati.
Gue cuman berharap satu hal, semoga apapun itu, menuju hal-hal yang membahagiakan.
Terlalu asing kembali, sampai tempat ini menjadi usang. Banyak bagian terlewati untuk diceritakan. Banyak waktu yang tidak sempat digunakan secara bijak, untuk dapat meluapkan sejenak gelisah yang ada.
Masih dengan tatanan rambut yang tidak berubah. Hadir dengan badan yang panas, sangat panas. Lemas, hampir tak berdaya. Awalnya enggan membantu karena tahu keadaan tidak lagi sama. Namun, apa daya.
Terlihat ada tumpukan dokumen terkait rekaman kesehatan. Mencoba membantu untuk menolong. Namun, ada yang menyela untuk tidak perlu membantu dan meneruskan.
Mencoba membuka mata dan langsung menghimpun banyak doa. Semoga semua dalam keadaan baik-baik saja. Tapi, apa dengan tidak ditemukannya maka itu akan baik-baik saja?
Hhhh, ada-ada saja. Suhu panas badannya masih tertinggal. Cukuplah sudah.
Bagi sebagian yang memilih keluar dari rumah untuk melanjutkan studi ataupun bekerja, pulang kampung akan selalu menjadi harga yang mahal secara biaya dan rasa.
Tiga bulan sejak anjuran #dirumahaja diberlakukan, menjadi kesempatan besar untuk kita memilih pulang. Yang biasanya hanya bisa beberapa hari atau pekan berada di rumah, kini bisa bertahan lebih lama.
Namun sepertinya, tak semua seperti yang dibayangkan ya?
Sebagian besar kita awalnya menyambut bahagia. Membayangkan kemudahan dan nikmatnya tersedia berbagai kebutuhan dan hal lainnya.
Tetapi semakin ke sini, sepertinya mulai ada gerutu dalam hati(?)
Karena nyaman yang dinanti terasa terganti. Mulai ada rasa orang rumah yang nggak mengerti. Mulai ada rasa orang rumah yang nggak peduli. Mulai ada rasa orang rumah yang mungkin cerewet. Mulai ada rasa orang rumah yang ikut campur, sok ngatur. Bahkan, mulai ada rasa malas berurusan dengan orang rumah.
Maka, inilah hal pertama yang mungkin kita lupa. Jika kepulangan kita bukanlah untuk liburan, tetapi untuk tetap melanjutkan pekerjaan, pembelajaran, dan kehidupan.
Kita dengan tanpa sadar memindahkan pola kehidupan/kebiasaan kita di perantauan, ke dalam pola kehidupan yang ada di rumah.
Orang rumah kita mungkin terbiasa dengan pola mencuci piring setelah digunakan, meletakkan kembali barang pada tempat diambilnya, menyapu setiap pagi dan sore hari, tidak membawa makanan ke dalam kamar, tidak beraktivitas di waktu senja dan larut malam, atau bahkan tidak terbiasa melihat orang di depan laptop seharian.
Namun kebiasaan kita di perantauan ternyata berbeda. Kita yang mungkin terbiasa menumpuk cucian, menaruh barang sembarangan, membersihkan ruangan dua kali dalam sepekan, membawa makan di dalam kamar indekosan, beraktivitas hingga larut malam, ataupun banyak rebahan.
Maka, inilah hal kedua yang mungkin kita lupa. Jika rumah kita sebenarnya tidak berubah, kita yang berubah.
Beberapa tahun silam, ketika kita keluar dari rumah ini, kita adalah “produk” dari rumah ini. Kebiasaan dan batasan hidup kita sebagian besar mengikuti kebiasaan dan batasan yang ditanamkan di rumah ini.
Lalu, di perantauan kita memulai tatanan hidup baru, mengkonsumsi banyak informasi baru, tumbuh dengan lingkungan yang baru dan teman-teman baru, hingga kita menjadi pribadi yang baru.
Kita perlahan telah berubah, dan kita lupa.
Maka, ketika kita menemukan gesekan-gesekan selama kita pulang dan berada di rumah, itu adalah sebuah niscaya. Karena memang pola yang kini kita miliki belum tentu akan selaras lagi dengan pola di rumah ini, bukan?
Bahkan, pernahkah kita bertanya jika bukan kita saja yang mungkin merasa tak nyaman? Orang rumah juga punya perasaan, dan bisa jadi mereka rasakan yang sama dengan kita.
Kita bisa jadi terlalu egois, menganggap seharusnya rumah yang menyesuaikan kita, beradaptasi dengan kita, mengerti tentang kita. Padahal, bisa jadi rumah ini telah banyak memaklumi kebiasaan baru kita.
Kita hanya perlu sedikit mengunggat kesadaran bahwa ini tidak seharusnya menjadi masalah yang kita rawat dan kita besarkan. Memulai untuk mengerti dan memahami, sepertinya terdengar baik untuk kondisi ini.
Pun ini hanya sementara kan? Bahkan lebih jauh dari itu, apa sebenarnya yang ingin kita menangkan?
Selagi ketidak selarasan kita hanya perkara kecil dunia, sepertinya tidak apa-apa jika kita yang mengalah dan menyesuaikan. Semoga nanti dengan itu, Allah hitung sebagai upaya menyenangkan hati saudara kita dan berbuat baik pada orang tua.
Karena bisa jadi, dari upaya kecil kita itulah Allah wasilahkan pertolonganNya, rahmatNya, berkahNya, atas apa-apa yang saat ini kita tengah memperjuangkannya.
Sebab mungkin ada sesuatu yang sangat kamu sukai dan ingin kamu temui lagi nanti. Bau tanah saat musim hujan misalnya, lagu favorit yang membuatmu selalu tersenyum ketika mendengarnya, atau pecel lele langganan di gang sebelah.
Sebab mungkin ada beberapa kejadian yang membuatmu ingin bertahan hingga esok hari. Seperti obrolan hangat yang menggelitik di sela jam makan siang, atau saat seseorang mengingatkanmu untuk jangan tidur larut malam, serta senyuman orang tuamu ketika menyambutmu pulang.
Hiduplah, Setidaknya Untuk hari ini.
Karena ada banyak hal yang akan kamu rindukan jika kamu benar-benar memutuskan pergi. Kakak adikmu dirumah, kucingmu yang bermata indah, sahabatmu yang sebentar lagi melahirkan, office boy lucu ditempatmu bekerja, tukang parkir indomaret, atau mantan kekasih yang diam-diam kamu perhatikan dari kejauhan.
Karena kamu masih memiliki segelintir rencana yang belum terpenuhi. Seperti pegunungan yang belum pernah kamu daki, daftar film yang belum kamu tonton dan komentari, negara impian yang belum pernah kamu kunjungi, skripsi yang belum direvisi atau menikahi seorang perempuan yang kamu cintai.
Hiduplah, Setidaknya Untuk Hari ini.
Kamu bisa mendengarkan lagu favoritmu sambil makan nasi goreng buatan ibu di pagi yang sejuk. Kamu bisa memberikan pelukan kepada orang tuamu dan bercengkerama hangat sampai lupa waktu. Kamu bisa bermain dengan kucingmu yang semakin hari semakin cantik dan pintar. Kamu bisa menonton belasan film dan mendiskusikannya dengan saudara atau sahabatmu. Atau kamu bisa menyelesaikan skripsimu yang sudah lama kamu biarkan berdebu.
Banyak sekali yang bisa kamu rekam dalam ingatan tentang hari ini. Siapa tahu, ketika kamu mengenangnya kembali, kamu menyadari bahwa kebahagiaan yang kamu dapatkan, belum tentu bisa kamu terima lagi di lain hari dan kesedihan yang kamu derita saat ini, menjadi sekumpulan kisah yang membuatmu tersenyum ketika mengingatnya suatu masa nanti.
Jalani saja hidupmu, bertahan sedikit lagi. Kamu tidak akan menduga, mungkin kamu akan tersenyum banyak sekali hari ini. Kamu tidak pernah tahu, mungkin setelah ini, kamu mulai menginginkan kehidupanmu agar terus berjalan meskipun akan ada bahagia dan luka.
Cobalah barang sekali, nikmati saja segala kejadian dan ketetapan Tuhan terhadap hidupmu. Sebab kamu tidak pernah tahu, barangkali hari ini dapat menjadi obat penawar luka dan lelahmu.
Saya tarik kembali perkataan yang dulu sempat terucap. Ucapan angkuh seorang pemudi yang dimabuk cinta, dibatas jarak.
“Hubungan jarak jauh itu lebih mengasyikkan. Kita jadi lebih paham arti keberadaan, rindu dan lebih greget”
Pernyataan itu memang ada benarnya, tapi tidak semudah itu. Tidak seenak itu. Semua itu enak dilalui sebab ada banyak faktor di belakangnya. Faktor yang hanya beberapa orang sanggup menjalaninya.
Sejak hubungan jarak itu berakhir, satu persatu datang beriringan dengan jarak. Ya, jarak menghantui di setiap hubungan yang Saya lalui.
Lebih kurang, dua terakhir yang Saya jalani memang seperti itu. Berakhir kembali karena jarak. Kesimpulan yang diambil masih seputar faktor tersebut. Kenapa harus ada jarak lagi?
Sekarang, memang dekat tapi tetap ada jarak. Jarak yang dibuat karena faktor eksternal, faktor yang semuanya sedang merasakan.
Bersyukur terus menjadi tameng utama untuk menghalau berbagai sambatan, keluhan juga bisikan syaitonirojim yang mengganggu.
Semangat untuk kita yang terus tetap berusaha kuat di pandemi ini. Semoga rencana baik kita di ridhoi olehNya, Aamiin.
Aku gak tau apakah keinginanku berlebihan atau enggak. Sekarang aku merasa kalau aku hanya perlu bersama dengan orang yang mau mendengarkanku dan mau aku dengar. Orang bilang, communication isn’t the key. Tapi, aku ingin menyangkalnya sedikit.
Aku perlu dengan orang yang mau aku cariin dan mencariku kapan saja. Gak perlu setiap menit, tapi dia gak keberatan jika aku menghujaninya dengan chat yang gak penting. Aku mau dia sama excited-nya sepertiku. Apa itu kekanak-kanakkan?
Aku tau sedihnya diabaikan. Makanya, aku selalu berusaha buat pasanganku (setidaknya lawan bicaraku) merasa nyaman dan gak berpikir kalau aku terpaksa ngobrol sama dia. Aku juga ingin merasakan hal itu… Bukannya ingin pamrih, tapi aku ingin diperlakukan sebaik aku memperlakukan dia. Walau aku tau, bukan kapasitasku untuk berekspektasi seperti itu.
Aku udah mendem ini dari sejak hubunganku dengan orang terakhir berakhir. Ada perasaan lega ketika aku gak harus bersinggungan dengan orang yang gak sefrekuensi lagi denganku. Perasaan kesel karena hanya hatiku yang terlibat di satu hubungan ini membuatku sakit kepala jika harus diteruskan. Jadi, aku memilih untuk pergi.
Sekarang, aku hanya ingin kembali merasakan perasaan secure karena ada seseorang yang bersedia mendampingiku, menyayangiku, serta membuatku merasa aku layak dipedulikan.
Untuk kamu yang mulai merasa bosan dengan situasi ini.
Berat memang apa yang harus kamu dan kita semua lalui. Menjaga jarak, mengelola ego, mengatur waktu, merindu, dan masih banyak lagi.
Ini memang terasa lama dan menyesakkan ya?
Mulailah untuk terus terima, pahami dan sadari keadaan. Semua rasa bosan, sedih ataupun senang sekalipun, disadari untuk diterima.
Untuk kamu yang membaca ini.
Rasa bosan memang menjengkelkan, tapi jangan sampai terlena di dalamnya. Silahkan ambil waktumu untuk menghalaunya. Pakai waktumu dengan bijak. Jika sudah, tengoklah ke sampingmu. Ada yang menunggumu di sudut ruang kecemasan dengan tangan mengenggam erat ponselnya.
Mungkin ini memang terasa sedikit lebih berat dari yang pernah Saya atau mungkin kita semua rasakan. Jarak yang ada saat ini terbentuk bukan karena kami yang ingin, melainkan semesta. Semesta sedang butuh pertolongan untuk rehat sejenak. Sulit dalam keadaan seperti ini untuk bisa saling memahami. Setiap sikap dan kata yang terucap bisa menjadi salah arti. Belum lagi kepenatan dengan keadaan, yang kian makin terasa.